Selamatan Desa merupakan salah satu rangkaian tradisi Merti Bumi Desa Tulungrejo yang dilaksanakan pada 2 Juli 2026. Kegiatan ini diisi dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, hasil bumi, serta keselamatan bagi seluruh masyarakat. Selamatan Desa juga menjadi sarana mempererat kebersamaan, memperkuat silaturahmi, dan melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun di Desa Tulungrejo.
Tirakatan & Jamasan Shidikara Pusaka merupakan salah satu rangkaian tradisi Merti Bumi Desa Tulungrejo yang dilaksanakan pada 1 Juli 2026. Kegiatan ini diawali dengan tirakatan sebagai sarana doa bersama untuk memohon keselamatan dan keberkahan, kemudian dilanjutkan dengan jamasan atau pencucian Pusaka Shidikara sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur serta simbol penyucian dan pelestarian budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Desa Tulungrejo.
Njenang & Adang Ketan merupakan salah satu rangkaian tradisi Merti Bumi Desa Tulungrejo yang dilaksanakan pada 30 Juni 2026. Kegiatan ini berupa proses memasak jenang dan ketan secara bersama-sama sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan pelestarian tradisi leluhur. Jenang dan ketan yang telah dimasak kemudian digunakan dalam rangkaian prosesi Merti Bumi serta dinikmati bersama sebagai wujud mempererat tali persaudaraan antarwarga Desa Tulungrejo.
Atur Pisungsun merupakan salah satu rangkaian tradisi Merti Bumi Desa Tulungrejo yang dilaksanakan pada 27 Juni 2026. Kegiatan ini berupa prosesi penataan dan penyusunan berbagai hasil bumi serta hasil olahan masyarakat sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan dan hasil panen yang melimpah. Selain melestarikan tradisi leluhur, kegiatan ini juga menjadi simbol kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat Desa Tulungrejo.
Potong Sapi merupakan salah satu rangkaian tradisi Merti Bumi Desa Tulungrejo yang dilaksanakan pada 25 Juni 2026 di Kantor Desa Tulungrejo. Kegiatan ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi dan rezeki yang telah diberikan. Daging sapi kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial antarwarga.